Internalisasi Nalai-nilai Sufistik Melalui Qasidah Burdah

Posted: March 21, 2011 in Uncategorized

Internalisasi Nalai-nilai Sufistik Melalui Qasidah Burdah

Salah satu dari kecerdasan majemuk menurut (Gardner, 1999b) yaitu kecerdasan musikal, yakni kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal, dengan cara mempersepsi dan mengapresiasi (misalnya, sebagai penikmat musik), membedakan (misalnya, sebagai kritikus musik), menggubah (misalnya, sebagai komposer), dan mengekspresikan (misalnya, sebagai penyanyi). Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada irama, pola titinada atau melodi dan warna nada atau warna suara suatu lagu.
Inti dari kecerdasan musikal adalah pusat pendengaran (hearing) yakni telinga, sebab dari telingalah setiap bunyi-bunyian direspons dengan baik lalu masuk ke otak, dan dari sana akan menyalurkannya ke seluruh jaringan saraf, sehingga kecerdasan musikal akan bangkit dan membangunkan setiap energi yang terdapat dalam diri seseorang. Efek positif akan dirasakan saat semua jaringan saraf teraliri gerak musikal melalui suara, atau bunyi-bunyian tersebut. Dalam diri manusia ada yang dinamakan auditory area, yakni pusat pendengaran tempat bermuaranya getaran-getaran saraf yang datang dari dua telinga (Alfarisi, 2005: 349). Jadi, pendengaran (hearing) adalah stimulus utama dalam kecerdasan musikal seseorang. Dengan alat pendengaran inilah seseorang mampu merespons setiap suara musikal yang dapat membina kepribadian seseorang. Dengan kata lain, proses impulsif melalui telinga akan membuat kesan ‘terngiang-ngiang’. Dari sanalah sebuah proses pembentukan kepribadian lewat getaran musikalitas yang diserap oleh si pendengar tadi.
Teori Place dalam Djohan (2005: 102) tentang persepsi pitch (pola titinada) melalui beberapa bukti fisiologis menunjukkan tempat terjadinya stimulasi di bagian dalam telinga. Ekstraksi dari pitch yang terpisah tidak ditunjukkan melalui penyortiran frekuensi yang berbeda pada tempat yang berbeda di dalam cochlea, yakni tempat lain dalam system saraf. Gelombang suara dengan kecepatan yang bervariasi dalam tekanan udara, mendorong gendang telinga ke luar dan ke dalam. Vibrasi dari gendang telinga ditransmisikan ke telinga bagian dalam oleh beberapa pengungkit yang terbuat dari tulang, yaitu ossicle dari bagian tengah telinga.
Cochlea adalah semacam pedar spiral yang dipenuhi oleh kelenjar getah dan terbagi oleh membran basiliar yang terstruktur. Ini merupakan cochlea di mana gelombang suara dikonversikan ke dalam impuls-impuls saraf. Sekali berada di dalam cochlea, gelombang suara berjalan sepanjang partisi yang terpisah sampai ke bagian tengah telinga.
Gelombang suara berjalan dari jendela oval menuju membran basiliar ke helicotrema di mana gelombang suara itu diserap. Setelah berjalan ke bawah, gelombang suara menggetarkan membran basiliar tempat serabut sensistif yang distimulasi oleh vibrasi tersebut. Pola bangkitnya sel-sel rambut akan diterjemahkan dengan bangkitnya saraf-saraf sebagai bentuk dasar dari sensasi manusia terhadap suara.
Menurut analisa Fourier (1992) dalam Djohan (2005: 42) gelombang suara yang masuk serta memisahkan komponen gelombang sinus ke tempat stimulasi yang berbeda pada membran basiliar, tergantung frekuensinya, membran tersebut terdiri dari serangkaian serabut yang berfungsi seperti serangkaian senar pada piano. Serabut yang panjang dekat
helicotrema meresonansi nada rendah dan serabut yang lebih pendek meresonansi nada-nada tinggi.
Vibrasi pada membran basiliar dekat dengan apa yang disebut kelembaban kritis. Berarti, vibrasi akan semakin keras setelah stimulasi berhenti. Tetapi kelembaban ini menimbulkan masalah bagi mekanisme persepsi pitch. Seperti halnya analogi pada pegas-massa sesuai analogi fisika.
Dengan demikian, sebagaimana yang dikemukakan Carrel (1997:125) “manusia adalah makhluk misterius”. Dengan segala ‘kemisteriusan’ nya ia memiliki berbagai kecerdasan diantaranya adalah kecerdasan musik. Hal tersebut sangat penting untuk dikaji dan diteliti.
Menurut Blacking (1995: 224) dalam Djohan (2005: 26) musik dianggap sebagai perilaku manusia, juga perilaku social yang kompleks dan universal. Setiap masyarakat memiliki apa yang disebut dengan musik, dan setiap anggota masyarakatnya adalah musikal. Seandainya benar, dalam budaya Barat terdapat perbedaan tajam antar siapa yang “memproduksi” musik dan siapa yang secara mayoritas “mengkonsumsi”-nya. Tetapi kenyataannya hampir semua golongan mayoritas dapat “mengkonsumsi” musik, mendengar, menarikan dan mengembangkannya. Sehingga ada kesan bahkan mayoritas diam pun adalah masyarakat yang musikal dalam kapasistas memahami musik.
Goleman & Gurin berpendapat dalam (Djohan, 2006 : 43) bahwa: serabut saraf dalam setiap tubuh manusia berisi sistem immun, yang menyediakan komunikasi biologis antara
saraf ujung terakhir dengan sistem immun. Juga disebutkan terdapat hubungan antara pikiran seseorang dan sikap, persepsi, emosi, dan kesehatan sistem immun tersebut. Sehingga kita memiliki kemampuan menjadi proaktif terhadap kesehatan tubuh dan pikiran. Musik adalah pulsa dari energi sebagai rangkaian lalu-lalang segala sesuatu melalui vibrasi.
Dengan adanya kekuatan musik yang halus ini, penulis mencoba mengkaji untuk diterapkan kepada orang lain, yaitu sebuah terapi musikal bagi pikiran dan batin. Di samping musik-musik yang berkembang saat ini, musik sufistik ini bias menjadi media penyeimbang di tengah disonansi musik yang bersifat entertainment..
Qasidah Burdah, dipandang sebuah studi tentang pendidikan nilai-nilai keagamaan yang terangkum dalam bentuk syair (puisi) Arab dan dilagukan dengan irama musikalitas melankolik-sikronik. Pendekatan ini adalah salah satu dari pendidikan dan pembinaan kepribadian religi terhadap klien, agar lebih cepat memahami serta mempraktekkan apa yang terkandung dari muatan pesan-pesan keagamaan di dalamnya, sehingga klien merasa tergugah secara terarah (gerechtigkeit) terutama dalam hal perubahan jiwanya, terlebih dalam mengapresiasi jiwa seninya.
Strategi berikutnya dalam melaksanakan pendidikan nilai melalui Qasidah Burdah sebagai pembinaan mental kepribadian religi melalui musik. Ini merupakan upaya penanaman pendidikan mentalitas dalam rangka memberikan pemahaman sikap keberagamaan dan perkembangan serta pertumbuhan seseorang. Selain bersifat pencegahan dari sifat-sifat buruk. Qasidah Burdah dapat pula bersifat penyembuhan. Teknik penyembuhan jiwa yang sedang galau, resah dan depresi, penulis mencoba mempraktekkan musikalitas syair-syair keagamaan dari kitab Islam klasik bernama Qashidah al-Burdah (Qasidah Burdah) karya Imam al-Bushiry.
Orientasi pergelaran musik secara umum seringkali dilaksanakan secara bebas nilai (values free) yaitu pergelaran musik yang cenderung menampilkan hal-hal yang bersifat hiburan semata-mata (entertainment) atau, lebih tepatnya lagi, cenderung pada pergelaran musik hura-hura (pell-mell music).
Pergelaran demikian terkadang menelan korban hingga pada kematian. Sebagai contoh sebagaimana baru-baru ini dilansir oleh Harian Umum Pikiran Rakyat, dan Tribun Jabar 10 Februari 2008, sedikitnya 11 orang tewas dan empat lainnya luka-luka dalam konser dan peluncuran album kelompok beraliran metal-core Beside band di Gedung Asia Africa
Cultural Centre (AACC), Jln. Braga Kota Bandung, Sabtu (9/2) malam.
Fenomena di atas menggambarkan betapa kacaunya suasana pergelaran musik-musik penghibur tersebut, mulai dari persiapan panitia yang kurang bertanggungjawab, terkesan asal-asalan, kurang profesional, tidak memperhitungkan kondisi kapasitas tempat, keamanan dan kenyamanan bagi para penonton, di samping ulah serta sikap para penonton sendiri tidak bisa tertib atau disiplin bahkan cenderung anarkis dan berlebihan. Menurut berita, kejadian konser musik metal-core (underground music), setiap penonton yang masuk diberi semacam minuman keras memabukkan sebagai syarat menikmati konser musik “underground” tersebut.
Tragedi semacam itu sangat sering terjadi di dunia pergelaran/konser musik Indonesia. Persoalannya sekarang adalah sejauhmana insan-insan terkait bisa mempertanggung jawabkan peristiwa yang mencoreng dunia musik bangsa ini. Oleh karena itu sebagai langkah penyeimbang (balance) bahwa internalisasi nilai-nilai sufistik melalui Qasidah Burdah dipandang perlu untuk dikenalkan ke dalam wilayah pola pembinaan kepribadian religi.
Menurut analisa penulis karya-karya baru bagi para musisi Barat adalah sebuah kemestian, siapa yang mampu bekerja keras dan dinamis bila orientasinya memasuki alur bisnis musik, maka akan dapat menghasilkan karya-karya orisinal dan monumental sekaligus juga finansial.
Akan tetapi, profil musisi bagi para sufi sama sekali tidak ada orientasi bisnis karena perbedaan tujuan. Tipe pertama, lebih mengandalkan produk (industri) musik daripada proses bagaimana memainkan musik sebagai sebuah jalan, media atau washilah untuk membina nilai kepribadian religi, mapan dan militan. Sedangkan, untuk tipe kedua, ingin
menjelaskan kepada segenap manusia bahwa musik bukan hanya sekedar media hiburan semata, namun, lebih luas dari itu dapat menjadi pembentuk perilaku positif. Sebagai perbandingan, tipe pertama hanya mampu melahirkan entertainment music atau musik hiburan, tipe kedua melahirkan therapy music yaitu musik terapi.
Dilihat dari konsepsi yang berbeda tersebut, maka keberadaan musisi di tengah msayarakat global saat ini, bisa saja menjadi produsen bisnis musik yang berhasil mengangkat blantika musik di tanah air, apapun jenis atau aliran musik tersebut, yang penting tujuan bisnisnya laris di pasaran. Sementara untuk musik terapi, dan religi bisa tetap eksis dalam upaya penyembuhan masyarakat yang sedang galau akibat keberadaan situasi di Tanah Air yang kian tak menentu ini.
Dari sudut pandang manfaat seni musik, pertama kali menurut psikologi seni memiliki arti luas, yaitu menunjukkan setiap cara yang sesuai untuk mengekspresikan diri, berupa tindakan atau sikap yang menyampaikan pada taraf kelengkapan dan kejernihan tertentu dari balik mental, ide dan emosi. Seni membantu mengidentifikasi “siapa kita” dan “apa potensi kita”. Menurut Nancy King dalam Djohan (2005:141) manfaat seni adalah sebagai alat untuk mewujudkan perasaan-perasaan dan memberikan pelayanan tanpa khawatir memikirkan aturan-aturannya. Seseorang yang memperoleh kesempatan dan rangsangan dari salah satu cabang kesenian, memiliki kesempatan untuk mengembangkan dan menikmati kehidupan di hari tuanya. Manfaat lain dari mempelajari seni adalah membantu pembentukan komunikasi verbal dan nonverbal sehingga dapat mencapai usaha belajar yang optimal, karena seni memberikan kesempatan untuk berekspresi tanpa kata-kata saat tidak dapat diungkapan secara verbal. Selain bermanfaat dalam pengungkapan perasaan, ia juga menjadi kreator untuk mewujudkan diri secara keseluruhan (self actualization) sebagai salah satu kebutuhan pokok hidup manusia dalam teori kebutuhan Maslow.
Musik sendiri memiliki dimensi kreatif (al-janib al-ibtikary) dan memiliki bagian yang identik dengan proses belajar secara umum. Sebagai contoh, dalam musik terdapat analogi melalui persepsi, visual, auditori, antisipasi, pemikiran induktif-deduktif, memori, konsentrasi dan logika. Dalam musik juga dapat dibedakan serta dipelajari cepat-lambat, rendah-tinggi, keras-lembut yang berguna untuk melatih kepekaan stimuli lingkungan.
Selain itu juga manfaat musik berpengaruh sebagai alat untuk meningkatkan dan membantu perkembangan kemampuan pribadi dan sosial. Menurut Djohan (2005:142) perkembangan pribadi meliputi aspek kemampuan kognitif, penalaran, inteligensi, kerativitas, membaca, bahasa, sosial, perilaku dan interaksi sosial.
Keterampilan kognisi dapat ditingkatkan melalui kegiatan kreatif dan permainan musik ikut membantu pengembangan pengalaman kreatif tersebut. Aktivitas musik justru banyak melibatkan kegiatan yang mendorong terjadinya penciptaan-penciptaan.
Di negara-negara maju, musik telah dimanfaatkan untuk kepentingan umum dan bukan hanya pada kepentingan musik. Bank, dokter gigi, agen asuransi, rumah sakit, dan tempat-tempat yang berhubungan dengan orang banyak telah memanfaatkan musik untuk kepentingan tertentu. Wajar kalau negara tertinggal seperti Indonesia belum mampu untuk melihat prospek musik dari aspek manfaat. Musik masih difungsikan untuk sekedar hiburan, hura-hura, dan hal itu sudah menjadi tradisi kuno, kalau boleh dikatakan primitif. Tetapi bila sampai sekarang hanya sebatas itu pemanfaatannya berarti musik menjadi sangat sempit dan ini tercermin dari orang-orang yang menggelutinya.
Di Indonesia tradisi konser musik sufistik (al-sama’) masih terbilang langka, namun konser-konser musik yang lebih berorientasi kepada nilai-nilai hiburan yang bersifat materialistik lebih nampak di tengah glamournya industri musik tanah air. Pergelaran atau konser musik yang mengedepankan nilai perubahan karakter bangsa sudah saatnya digelar, sebagai langkah penyeimbang dari kondisi masyarakat hedonis materialistis mengarah kepada masyarakat yang tetap mempertahankan nilai-nilai religiusitas dan peradaban yang tinggi dari bangsa ini.
Tujuan filosofis dari fenomena tersebut di atas dikhawatirkan merusak tatanan nilai-nilai moralitas generasi muda sekarang ini membuat keresahan, dan melalui penelitian ini penulis berupaya menjadikan Qasidah Burdah sebagai media untuk menginternalisasikan pembinaan nilai-nilai sufistik, sangatlah mendesak untuk dikaji sebagai sebuah musik alternative sufistik yang mampu memotivasi perilaku seseorang.
Dengan demikian, pergelaran dalam dunia musik sufistik (al-sama’) secara filosofis adalah bertujuan mempraktikkan dan membangkitkan semangat (ghirah) kecintaan kepada Sang Pencipta Tuhan Semesta Alam. Pergelaran yang bersifat konser musik adalah salah satu sarana peneguhan keberadaan manusia, tawajud, sehingga mampu menyentuh perasaan yang dalam bukan sebaliknya menjadi hampa tak bermakna.
Qasidah Burdah, adalah model perpaduan musikalitas syair-syair yang terkandung sarat dengan nilai-nilai moral sufistik, membangkitkan gairah dan semangat juang batiniah seseorang, melalui paduan musikalitas syi’ir tersebut disentuh oleh instrumen yang menggambarkan perpaduan musikalitas soft blues country dengan alunan harmonika dan petikan dawai gitar serta sayup suara accordion yang menampilan ilustrasi esoteris diakronik menambah ghirah religiusitas insani.
Tahapan aransemen musikalisasi Qasidah Burdah dilakukan dengan cara kontemplasi bertahap mulai dari tingkat paling sederhana atau dasar (ibtida) sampai tingkat tinggi (ulya), sehingga diharapkan dalam proses internalisasinya mampu membangkitkan inherenitas (kelekatan) antara akal-fikiran, gerak hati dan nilai-nilai yang terkandung dalam musik tersebut.
Penelitian ini difokuskan untuk merumuskan pola pembinaan serta pendidikan nilai sufistik secara utuh dan operasional-praksis. Lalu akan dikaji dan diungkap secara sistematis sesuai dengan nilai-nilai pendidikan Islam melalui syair yang terdapat dalam kumpulan syair Qasidah al-Burdah, yang memiliki kandungan keindahan musikal, baik yang bersumber pada kebenaran (positif) maupun pada keburukan (negatif). Dari rumusan konsep tersebut selanjutnya dikaji secara teoretis inherenitasnya dengan wilayah pendidikan.
Maka dari sanalah akan dijelaskan pengembangan konsep pendidikan nilai-nilai dan gambaran ideal musik sufistik. Kemudian kejelasan-kejelasan operasional juga perlu diiringi dengan keterukuran proses edukasi. Pada proses ini akan memunculkan sejumlah komponen edukasi yang menyangkut landasan filosofis, materi, metode evaluasi, sarana dan prasarana serta daya dukung lingkungan. Sehingga penerapan pendidikan nilai melalui internalisasi Qasidah Burdah dapat memberikan pencerahan dan perubahan semangat keberagamaan di satu sisi, serta memberikan pengaruh positif pada sikap, perilaku dan kepribadian setiap manusia. Keberhasilan penerapan secara praksis pengembangan model pembinaan nilai kepribadian ini tergantung pada kesadaran (awareness) memaknai musik sufistik sebagai media pembinaan mental yang satu saat mampu membangun kepribadian religi.
Mengenai istilah musik memiliki pengertian yang beragam sejak zaman Yunani Kuno hingga kini. Skyjes (1978) mendefinisikan musik dalam Rachmawati (2005: 27) sebagai “art combining sound of voice (s) or instrument (s) to achieve beauty of form and expression of emotion…”.
Ada yang mendefinisikan musik sebagai organisasi bunyi dan diam dalam satuan waktu, intensitas dan tekstur tertentu. Lepas dari berbagai definisi tersebut, secara faktual-praksis dapat dengan mudah menganal musik dalam derajat keindahan yang bervariasi tergantung pada penilaian dan penilai yang berbeda. Kepentingan penelitian di sini bukan
untuk mencari definisi musik yang beragam, tetpai memahami pengaruh musik sufistik terhadap manusia untuk kemudian melihat peranan musik dalam peningkatan kualitas kepribadian dan hidup manusia.
Untuk itu, pemahaman tentang unsur-unsur internalisasi musik lebih diperlukan daripada pengertian seragam dari musik. Merujuk pada Mitchell dan Logan (2003), secara umum, unsur-unsur musik terdiri dari dinamika harmoni, alat musik, meter, melodi, ritme, tempo dan timbre (warna suara). Dinamika adalah istilah untuk tingkatan keras lembutnya suara
dalam musik. Harmoni merujuk pada dua pengertian (1) keselarasan nada dalam pembuatan akor (chord); dan (2) sistem keselarasan nada dalam akor yang mengatur alur akor dan bagaimana satu akor mengikuti akor yang lain. Alat musik atau instrument merupakan penentu warna dari musik atau instrument merupakan penentu warna musik yang dikelompokkan menjadi alat musik bersenar (digesek maupun dipetik), alat musik tiup kayu dan logam, serta alat musik perkusif. Meter adalah hasil dari efek periodik atau pengulangan getaran yang biasa disebut beat dalam musik. Melodi adalah serangkaian nada yang saling mengikuti satu sama lain yang diatur oleh satu prinsip dasar tertentu, membentuk satu ide abstrak yang dapat diingat. Ritme adalah penyusunan perangkaian panjang pendeknya nada yang jatuh tepat pada beat atau di antara beat yang dibentuk oleh meter. Tempo adalah kecepatan beat dalam musik yang diukur dari jumlah beat per menit. Terakhir, timbre adalah profil harmoni atau kualitas dari suatu sumber suara yang biasanya mempengaruhi mood dalam musik (Rachmawati, 2005: xxvi-xxvii).
Saat ini kita semakin merasakan perlunya pendidikan budi pekerti (perilaku yang baik) mendapatkan porsi yang lebih besar dalam sistem persekolahan. Hal ini terjadi di antaranya, disebabkan oleh fenomena ‘krisis moral’ yang semakin mencuat ke permukaan, merambah ke segenap lapisan masyarakat dari tingkat pejabat hingga rakyat.
Hal inilah yang menarik bagi peneliti sehingga permasalahan ini berkeinginan diangkat menjadi tema pembahasan, pendalaman yang nanti mengarah pada penelitian ilmiah sebagai media pembinaan nilai kepribadian religi, budi pekerti dan nilai jiwa kemanusiaan, sehingga suatu saat menjadi metode pendidikan dalam membentuk pola kepribadian dan nilai diri seseorang.
Dengan demikian, media pendidikan nilai sufistik melalui Qasidah Burdah dapat menduduki porsi utama dalam kehidupan masyarakat pembelajar, tidak hanya sebagai pembelajaran seni semata, namun diharapkan ia dapat menjadi salah satu media dan sumber yang dapat dioptimalkan sehingga menampakkan keutuhan nilai seni yang inheren pada jiwa masyarakat didik pada umumnya dan mampu membina budi pekerti manusia Indonesia.
Dengan demikian, bagaimana upaya mengatasi persoalan perilaku masyarakat saat ini, sehingga diperlukan suatu penelitian jenis musik yang dapat mencerahkan perilaku dan karakter. Qasidah Burdah salah satu langkah alternatif ke arah tersebut, dengan cara internalisasi nilai-nilai sufistik melalui Qasidah Burdah diharapkan mampu membina kepribadian religi. Adapun jenis musik yang dipandang inheren mampu membina kepribadian adalah musik yang memiliki sentuhan batin, mendamaikan dan membangkitkan motivasi si pendengarnya, dalam khazanah musik Islam disebut al-sama’ (konser musik sufistik).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s